
Jakarta, gulassaco.com Indonesia
—
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
Airlangga Hartarto
merespons polemik di publik terkait kategori
desil
yang dinilai tak sesuai kondisi ekonomi masyarakat.
Berdasarkan laman resmi Cek Bansos Kementerian Sosial (Kemensos), desil merupakan kelompok kesejahteraan keluarga yang diukur berdasarkan variabel sosial ekonomi, mencakup keterangan individu seperti pekerjaan dan pendidikan, keterangan perumahan seperti kondisi rumah dan daya listrik, serta kepemilikan aset.
Merespons itu, Airlangga mengatakan pembagian desil tersebut berdasarkan data yang dikumpulkan melalui mekanisme sensus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Desil itu basisnya sensus ekonomi. Jadi, sudah ada DTSEN (data tunggal sosial dan ekonomi nasional),” kata Airlangga di AYANA Midplaza, Jakarta Pusat, Rabu (19/8) dikutip
Detik Finance.
Namun, Airlangga tak menjawab rinci soal penentuan desil tersebut merujuk pada besaran pengeluaran atau kepemilikan aset. Ia hanya memastikan seluruh indikator ekonomi tersebut dihimpun melalui metode survei.
“Ya itu berdasarkan survei,” tambahnya.
Perkara desil menuai protes publik. Banyak masyarakat yang mengecek status desil secara mandiri, dan kaget karena ditempatkan di kategori desil mereka.
Masyarakat mengecek status desil di website dtsen-form.bps.go.id, dengan cara memasukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK).
Fitri, seorang ibu rumah tangga di Bekasi, Jawa Barat, terkejut ditempatkan di desil 10 yakni golongan dengan tingkat kesejahteraan tertinggi, padahal tak sesuai kondisi finansial mereka. Suaminya merupakan pebisnis kaos sablon berskala kecil.
“Cuma punya motor, rumah juga numpang ke orang tua, tahu-tahu desil 10,” keluhnya.
[Gambas:Youtube]
(pta)
Baca lagi: Profil M Sarjito, Calon Kepala Pengawas Bursa Mineral Usulan Prabowo
Baca lagi: 5 Konteks Istilah dan Sejarah dalam Film China Dear You (2026)
Baca lagi: Taiwan Pilih A Foggy Tale Jadi Wakil ke Oscar 2027



