
Jakarta, gulassaco.com Indonesia
—
Ketua Komisi XI
DPR
RI Mukhamad Misbakhun menegaskan besaran
Transfer ke Daerah
(TKD) Tahun Anggaran 2027 belum ditetapkan secara final.
Menurutnya, angka resmi TKD masih menunggu proses penyusunan Nota Keuangan dan RAPBN 2027 yang akan disampaikan pemerintah kepada DPR.
Misbakhun mengatakan, berbagai angka yang muncul di ruang publik sebaiknya dibaca sebagai bagian dari dinamika pembahasan kebijakan fiskal, bukan sebagai keputusan akhir. Karena itu, ia meminta pemerintah daerah tetap mengikuti proses APBN secara proporsional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Kami memahami aspirasi dan kekhawatiran pemerintah daerah. Karena itu, Komisi XI akan mengawal proses pembahasan TKD 2027 agar formulanya tetap adil, rasional, dan berpihak pada kebutuhan pembangunan daerah,” kata Misbakhun dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (26/6).
Pemerintah Buka Ruang Penguatan TKD
Misbakhun menjelaskan bahwa dari pembahasan awal antara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan DPR, pemerintah membuka ruang agar TKD Tahun Anggaran 2027 dapat lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, ia menegaskan besaran akhirnya tetap harus menunggu keputusan resmi dalam siklus pembahasan RAPBN.
Misbakhun kemudian mencontohkan, pada APBN 2026 alokasi TKD ditetapkan sebesar Rp693 triliun setelah adanya tambahan Rp43 triliun dari rancangan awal.
Menurut Misbakhun, pengalaman pembahasan APBN 2026 menunjukkan bahwa aspirasi daerah tetap menjadi perhatian pemerintah dan DPR dalam menentukan desain kebijakan fiskal.
“Pemerintah memahami aspirasi daerah. Kami di DPR juga terus meminta agar pembangunan yang dilaksanakan pemerintah daerah tetap memperoleh ruang fiskal yang memadai, terutama untuk pelayanan dasar, infrastruktur, dan penguatan ekonomi lokal,” ujarnya.
Manfaat APBN Harus Sampai ke Daerah
Dalam konteks yang lebih luas, Misbakhun menilai keberpihakan APBN kepada daerah tidak semata-mata ditentukan oleh satu pos anggaran.
Dalam volume APBN yang terus berkembang, kata Misbakhun, pembangunan dapat dijalankan melalui TKD maupun belanja pemerintah pusat, sepanjang manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat di daerah.
“Yang paling penting adalah rakyat di daerah tetap memperoleh manfaat pembangunan. Instrumennya bisa dibahas, tetapi hasil akhirnya harus nyata, terukur, dan menjawab kebutuhan masyarakat,” ujar Misbakhun
(tim/agt)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: Baca Eksepsi, Kubu Richard Lee Soroti Dakwaan JPU Lemah
Baca lagi: Sinopsis Obsession, Mainan Pengabul Cinta Berujung Petaka
Baca lagi: 10 Tahun LaLaLa Festival: Dari Cikole hingga Ekspansi ke Filipina




2 Responses
Saya jadi lebih paham setelah membaca artikel ini. Kebetulan saya juga menemukan https://andscape.com/features/artists-murals-draw-on-alis-confidence-black-masculinity-and-tenacity/ yang membahas topik serupa dengan cukup lengkap.
Artikel yang sangat informatif dan disusun dengan rapi. Sebagai tambahan wawasan, teman-teman juga bisa mengecek situs https://www.seebug.org/vuldb/ssvid-4584 karena materi di sana cukup relevan.