Menkeu Era SBY Ungkap Biang Kerok Rupiah Terjun ke Rp18 Ribu

Jakarta, gulassaco.com Indonesia

Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan

Chatib Basri

menilai tekanan terhadap nilai tukar

rupiah

lebih banyak dipicu kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal Indonesia ketimbang faktor eksternal seperti konflik di Timur Tengah.

Menurutnya, banyak pihak mengaitkan pelemahan rupiah dengan perang yang melibatkan Iran dan Israel. Namun, berdasarkan analisis yang ia lakukan, risiko fiskal justru menjadi faktor yang lebih dominan.

“Kalau kemudian dibilang bahwa penyebabnya adalah perang,

that’s not true

. Kenapa, karena negara lain juga ada akibat dari perang, tapi depresiasinya tidak sedalam Indonesia,” kata Chatib dalam Grab Business Forum 2026 di Jakarta, Selasa (9/6).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan salah satu indikator yang mencerminkan persepsi pasar terhadap kondisi fiskal adalah credit default swap (CDS), yakni premi risiko yang harus dibayar investor untuk mengasuransikan surat utang suatu negara dari risiko gagal bayar.

Berdasarkan analisis yang ia lakukan, sekitar 23 persen pergerakan nilai tukar rupiah dapat dijelaskan oleh perubahan CDS Indonesia.

“Jadi kalau CDS-nya naik, itu risiko fiskalnya naik. Kalau dia risiko fiskalnya naik, ada enggak

impact

-nya terhadap rupiah? Saya coba lakukan ini, hasilnya cukup menarik. Karena 23 persen dari pelemahan rupiah itu sebetulnya bisa dijelaskan oleh CDS,” ujarnya.

[Gambas:Youtube]

Menurut Chatib, temuan tersebut menunjukkan pelemahan rupiah lebih banyak berkaitan dengan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan fiskal pemerintah.

“Artinya saya bisa bilang bahwa soal kita itu adalah soal

confidence risk

,” katanya.

Ia juga menyoroti kenaikan CDS Indonesia sudah terjadi sejak awal tahun, jauh sebelum konflik terbaru di Timur Tengah memanas.

“CDS itu mulai memburuk sebelum perang. Jadi kalau kemudian dibilang bahwa penyebabnya adalah perang,

that’s not true,

” tegasnya.

Chatib mengatakan pasar saat ini mencermati kemampuan pemerintah menjaga defisit anggaran dan kredibilitas fiskal di tengah berbagai program belanja besar yang tengah dijalankan.

Menurut dia, perlambatan penerimaan negara di tengah kebutuhan belanja yang tinggi berpotensi memunculkan kekhawatiran investor terhadap ruang fiskal pemerintah.

“Tadi saya katakan ada kemungkinan

tax revenue

-nya akan

slowdown

di quarter 3 dan 4. Mau enggak mau,

spending

-nya enggak akan setinggi sekarang,” ucap Chatib.

“Kalau enggak, budget deficit-nya akan lebih dari 3 persen. Inilah yang kemudian menimbulkan anxiety dari investor,” pungkasnya.

(lau/ins)

Add

as a preferred

source on Google

Baca lagi: Di DPR, Gubernur Sherly Curhat Tak Bisa Gaji PPPK hingga Akhir Tahun

Baca lagi: Mana Lebih Sehat Matcha atau Kopi? Ini Perbandingannya

Baca lagi: Trump Klaim AS Akan ‘Menang Total’ Atas Iran Dalam 2 Pekan

3 Responses

  1. Nikmati permainan yang lebih seru dan penuh tantangan di link slot dengan hadiah besar, bonus harian menarik, dan peluang kemenangan yang bikin ketagihan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: