
Jakarta, gulassaco.com Indonesia
—
Rupiah
kembali berada di bawah tekanan dan kembali menyentuh level terendah sepanjang sejarah saat nyaris tembus Rp18.200 ribu per dolar AS. Di saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (
IHSG
) juga belum mampu bangkit dari level 5.000.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan pelaku pasar maupun masyarakat umum, mengapa pelemahan rupiah dan IHSG terjadi begitu cepat dan seolah sulit dibendung dalam beberapa waktu terakhir? Apakah ini sekadar dampak gejolak global atau ada persoalan lain yang membuat investor semakin berhati-hati terhadap Indonesia?
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita menilai pelemahan saat ini masih dapat dikategorikan sebagai fenomena yang relatif wajar dalam dinamika pasar keuangan global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ronny, rupiah dan IHSG merupakan dua indikator yang sangat sensitif terhadap persepsi risiko investor. Ketika ketidakpastian meningkat, investor biasanya akan mengurangi eksposur terhadap aset-aset berisiko di negara berkembang dan memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.
“Pada dasarnya masih dapat dikategorikan sebagai fenomena yang relatif wajar dalam dinamika pasar keuangan, meskipun besarnya tekanan yang terjadi tetap perlu diwaspadai,” ujar Ronny kepada
gulassaco.comIndonesia.com.
Ia menjelaskan saat ini pasar global sedang menghadapi berbagai tekanan secara bersamaan, mulai dari suku bunga global yang masih tinggi, penguatan dolar AS, ketidakpastian ekonomi dunia, hingga meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat arus modal cenderung bergerak ke aset-aset safe haven, sementara negara berkembang menghadapi tekanan keluar modal atau capital outflow. Dalam situasi seperti itu, pelemahan rupiah dan IHSG secara bersamaan sebenarnya bukan sesuatu yang aneh.
Ronny mengatakan dalam banyak episode gejolak pasar sebelumnya, kedua indikator tersebut memang kerap bergerak searah. Ketika investor asing menjual saham dan obligasi Indonesia, mereka juga menjual aset berdenominasi rupiah untuk kemudian dikonversi menjadi dolar AS.
“Ketika investor asing keluar dari pasar saham dan obligasi Indonesia, mereka menjual aset rupiah dan mengonversinya ke dolar AS, sehingga nilai tukar tertekan dan indeks saham ikut melemah,” jelasnya.
Meski demikian, Ronny mengingatkan ada titik tertentu ketika pasar mulai melihat faktor domestik sebagai penyebab tambahan.
Namun, Ronny mengingatkan apabila pelemahan rupiah dan IHSG berlangsung terlalu lama atau lebih dalam dibandingkan negara emerging market lain, investor biasanya mulai mempertanyakan kondisi fundamental ekonomi dalam negeri. Di sinilah isu kepercayaan investor mulai ikut berperan.
“Pasar biasanya mulai menilai bahwa terdapat faktor domestik yang ikut memperburuk sentimen,” katanya.
Meski demikian, Ronny menilai terlalu sederhana jika seluruh pelemahan rupiah dan IHSG langsung dikaitkan dengan rendahnya kepercayaan terhadap pemerintah. Investor tidak hanya melihat satu faktor ketika menilai risiko sebuah negara. Mereka juga memperhatikan kondisi fiskal, arah kebijakan ekonomi, kepastian hukum, stabilitas politik, kesehatan APBN, serta prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
“Yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa investor sedang melakukan penilaian ulang terhadap tingkat risiko Indonesia,” imbuhnya.
Dalam proses tersebut, investor akan menghitung kembali apakah risiko berinvestasi di Indonesia masih sebanding dengan potensi keuntungan yang bisa diperoleh.
Apabila muncul kekhawatiran mengenai arah kebijakan atau keberlanjutan fiskal, maka premi risiko Indonesia akan meningkat. Ketika premi risiko naik, investor cenderung meminta imbal hasil yang lebih tinggi atau memilih memindahkan dana ke negara lain yang dianggap lebih aman.
“Persoalannya bukan hanya percaya atau tidak percaya kepada pemerintah, tapi apakah investor masih menilai bahwa rasio risiko dan imbal hasil investasi di Indonesia tetap menarik dibandingkan alternatif lain,” kata Ronny.
Tekanan terhadap rupiah juga membawa konsekuensi yang tidak kecil bagi pemerintah. Ronny menjelaskan salah satu dampak langsung adalah meningkatnya beban kewajiban yang terkait dengan mata uang asing. Meski struktur utang pemerintah saat ini jauh lebih sehat dibandingkan masa lalu, sebagian kewajiban masih berdenominasi valuta asing.
Akibatnya, ketika rupiah melemah, nilai kewajiban tersebut menjadi lebih besar dalam perhitungan rupiah.
Selain itu, pelemahan kurs juga berpotensi meningkatkan tekanan terhadap APBN melalui kenaikan biaya impor energi dan berbagai komoditas strategis lainnya. Jika pemerintah memilih menahan harga untuk menjaga daya beli masyarakat, kebutuhan subsidi dan kompensasi berpotensi meningkat.
“Pelemahan rupiah juga dapat memicu imported inflation karena bahan baku, barang modal, obat-obatan, dan berbagai produk impor menjadi lebih mahal,” terangnya.
Menurut Ronny, dampak tersebut pada akhirnya dapat menekan daya beli masyarakat dan meningkatkan biaya produksi dunia usaha. Ia juga mengingatkan pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya pembiayaan negara apabila investor meminta imbal hasil obligasi yang lebih tinggi.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut bisa mempersempit ruang fiskal pemerintah untuk membiayai berbagai program pembangunan.
Ronny menilai langkah yang diperlukan tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan moneter. Bank Indonesia (BI) memang perlu menjaga stabilitas pasar valuta asing dan memastikan likuiditas dolar tetap tersedia untuk meredam gejolak spekulatif.
Namun, langkah tersebut harus dibarengi kebijakan fiskal yang kuat dan reformasi struktural yang mampu meningkatkan keyakinan investor. Menurut dia, salah satu hal yang paling ditakuti investor bukanlah kabar buruk, melainkan ketidakjelasan mengenai arah kebijakan di masa depan.
“Kepastian regulasi, disiplin fiskal, transparansi kebijakan, serta konsistensi dalam pengambilan keputusan menjadi faktor yang sangat penting karena pasar keuangan pada dasarnya sangat menghargai kepastian. Sering kali yang paling ditakuti investor bukanlah berita buruk, tapi ketidakpastian mengenai apa yang akan terjadi berikutnya,” papar Ronny.
Pandangan yang sedikit berbeda disampaikan Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet. Ia sepakat faktor global menjadi salah satu penyebab utama tekanan terhadap rupiah dan IHSG.
Menurut dia, suku bunga AS yang masih tinggi membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik dibandingkan aset negara berkembang. Selain itu, kenaikan harga minyak akibat ketegangan geopolitik juga memperbesar tekanan terhadap negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Namun, Yusuf menilai faktor global saja tidak cukup menjelaskan mengapa tekanan yang dialami Indonesia terlihat lebih besar dibandingkan beberapa negara lain di kawasan.
“Sebagian pelemahan memang dapat dijelaskan oleh faktor global. Namun faktor global saja tidak cukup menjelaskan mengapa Indonesia mengalami tekanan yang lebih berat dibanding banyak negara lain di kawasan,” kata Yusuf.
Ia menyoroti fakta bahwa sejumlah bursa internasional masih mampu bertahan, bahkan mencetak rekor baru di tengah berbagai ketidakpastian global. Sebaliknya, pasar Indonesia justru mengalami pelemahan yang relatif lebih dalam.
Yusuf melihat isu kepercayaan investor menjadi faktor yang semakin penting dalam membaca kondisi saat ini. Salah satu sentimen yang menjadi perhatian pasar adalah keputusan MSCI yang mengeluarkan 19 saham Indonesia dari indeks global, tanpa adanya penambahan emiten baru.
“Bagi investor internasional, langkah ini tidak hanya dipandang sebagai penyesuaian teknis, tetapi juga sinyal adanya kekhawatiran terhadap kualitas tata kelola perusahaan, transparansi kepemilikan, dan likuiditas pasar,” imbuhnya.
Menurutnya, dalam beberapa bulan terakhir, pasar juga dibayangi kekhawatiran mengenai meningkatnya peran negara dalam perekonomian serta ketidakjelasan arah kebijakan fiskal.
“Dengan kata lain, yang dipertanyakan investor bukan sekadar prospek pertumbuhan ekonomi, melainkan konsistensi aturan dan kredibilitas kebijakan,” katanya.
Yusuf menambahkan kekhawatiran pasar semakin menguat karena asumsi nilai tukar dalam APBN 2026 berada di kisaran Rp16.500 per dolar AS, sementara kurs aktual telah bergerak jauh di atas level tersebut. Di saat yang sama, defisit anggaran mulai melebar dan berbagai program prioritas pemerintah membutuhkan pembiayaan yang besar.
[Gambas:Photo gulassaco.com]
“Kondisi ini membuat pasar mempertanyakan kemampuan pemerintah menjaga disiplin fiskal dalam jangka menengah. Perhatian investor kini juga tertuju pada evaluasi MSCI dan FTSE Russell pada pertengahan Juni yang dapat memengaruhi persepsi global terhadap pasar keuangan Indonesia,” terang Yusuf.
Menurut Yusuf, pelemahan rupiah juga membawa dampak fiskal yang nyata. Pembayaran pokok dan bunga utang dalam valuta asing menjadi lebih mahal ketika dikonversi ke rupiah.
Beban subsidi energi juga berpotensi meningkat karena biaya impor minyak dan bahan bakar ikut naik seiring pelemahan kurs.
Selain itu, melemahnya aktivitas pasar modal dapat memengaruhi penerimaan negara yang berasal dari transaksi dan aktivitas investasi. Yusuf menilai penyelesaian masalah tidak bisa hanya mengandalkan Bank Indonesia.
“Kenaikan suku bunga, intervensi di pasar valas, dan berbagai instrumen stabilisasi memang dapat meredam gejolak dalam jangka pendek. Namun efektivitasnya terbatas jika akar masalah berupa menurunnya kepercayaan investor belum teratasi,” ujarnya.
Karena itu, menurut dia, pasar membutuhkan sinyal yang jelas bahwa pemerintah tetap berkomitmen menjaga disiplin fiskal, mengelola belanja negara secara hati-hati, serta memperkuat tata kelola pasar keuangan.
“Pasar membutuhkan sinyal yang jelas bahwa pemerintah tetap berkomitmen menjaga disiplin fiskal, mengelola belanja negara secara hati-hati, dan memperkuat tata kelola pasar keuangan. Transparansi kebijakan dan kepastian aturan menjadi faktor yang sama pentingnya dengan langkah moneter,” pungkasnya.
[Gambas:Youtube]
Add
as a preferred
source on Google
Cara Bendung Longsor Rupiah dan IHSG
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN:
1
2
Baca lagi: Ferrari Resmi Perpanjang Kontrak Charles Leclerc
Baca lagi: Said Abdullah Dorong KSSK Perkuat Sinergi Jaga Stabilitas Rupiah
Baca lagi: Memori ’98 dan Imajinasi Andre Syahreza dalam Semesta Nekra



